Umroh Sesuai Sunnah Rosulullah

Nabi tidak pernah menolak orang yang meminta kepadanya

Sebagian kita mungkin sangat dermawan, dan selalu memberi kepada orang yang membutuhkan bantuan. Akan tetapi bagaimanapun juga tidak akan sampai pada derajat “Senantiasa memberi jika diminta dan tidak pernah menolak”. Diantara keajaiban akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ia kalau diminta pasti memberi jika memang beliau punya. Dan sifat ini diketahui oleh para sahabat, oleh karenanya mereka menyatakan “أَنَّهُ لاَ يَرُدُّ سَائِلاً” (Nabi tidak pernah menolak orang yang meminta kepadanya).

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu beliau berkata :
جَاءَتِ امْرَأَةٌ بِبُرْدَةٍ… قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي نَسَجْتُ هَذِهِ بِيَدِي أَكْسُوكَهَا، فَأَخَذَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحْتَاجًا إِلَيْهَا، فَخَرَجَ إِلَيْنَا وَإِنَّهَا إِزَارُهُ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، اكْسُنِيهَا. فَقَالَ: «نَعَمْ». فَجَلَسَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي المَجْلِسِ، ثُمَّ رَجَعَ، فَطَوَاهَا ثُمَّ أَرْسَلَ بِهَا إِلَيْهِ، فَقَالَ لَهُ القَوْمُ: مَا أَحْسَنْتَ، سَأَلْتَهَا إِيَّاهُ، لَقَدْ عَلِمْتَ أَنَّهُ لاَ يَرُدُّ سَائِلًا، فَقَالَ الرَّجُلُ: وَاللَّهِ مَا سَأَلْتُهُ إِلَّا لِتَكُونَ كَفَنِي يَوْمَ أَمُوتُ، قَالَ سَهْلٌ: فَكَانَتْ كَفَنَهُ

“Datang seorang wanita membawa sebuah burdah… lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menenun kain burdah ini dengan tanganku agar engkau memakainya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengambil kain burdah tersebut dalam kondisi memang membutuhkannya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui kami dengan menggunakan kain burdah tersebut sebagai sarung beliau. Maka ada seorang lelaki –diantara kaum yang hadir- berkata, “Wahai Rasulullah, berikanlah sarung itu kepadaku untuk aku pakai !”. Nabi berkata, “Iya”. Maka Nabi pun duduk di suatu tempat lalu kembali, lalu melipat kain burdah tersebut lalu ia kirimkan kepada orang yang meminta tadi. Maka orang-orangpun berkata kepadanya, “Bagus sikapmu…, engkau meminta kain tersebut kepada Nabi, padahal kau sudah tahu bahwa Nabi tidak pernah menolak orang yang meminta kepadanya?”. Maka orang itu berkata, “Demi Allah, aku tidaklah meminta kain tersebut kecuali agar kain tersebut menjadi kain kafanku jika aku meninggal”. Sahl berkata, “Maka kain tersebut akhirnya menjadi kafan orang itu” (HR Al-Bukhari no 2093)

Hadits ini menunjukkan bahwa sikap Nabi yang tidak pernah menolak orang yang meminta darinya -jika ia punya-, merupakan perkara yang telah diketahui oleh para sahabat.

Kalau kita perhatikan hadits ini maka sungguh sangat menakjubkan, Nabi baru saja mendapat hadiah kain baru, dan beliau lagi membutuhkan untuk memakai kain tersebut. Dan baru saja beliau memakainya langsung diminta oleh salah seorang sahabat. Dan Nabi langsung memberikannya, yaitu segera beliau melepas kain tersebut dari tubuhnya lalu melipatnya dan memberikan kepada sahabat yang meminta tersebut, padahal Nabi juga membutuhkan kain tersebut untuk beliau pakai karena kekurangan pakaian.

Nabi tatkala diminta langsung menjawab, “Iya”, tanpa ada keraguan, tanpa ada raut wajah yang menunjukkan kejengkelan, semuanya beliau berikan dengan senang hati. Hal ini tidak lain karena sikap dermawan beliau yang luar biasa.

Sahabat yang meminta tersebut juga tidak pantas untuk dicela, ia meminta kain tersebut tidak lain hanya untuk mencari keberkahan tubuh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena kain tersebut telah menyentuh tubuh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang penuh berkah.

Penulis tidak bisa bayangkan, jika seandaianya ada dai atau kiyai atau sebagian kita –yang kurang tawadhu’- diperlakukan demikian, maka kira-kira jawabannya :

“Kamu ini murid tidak tahu diri, sudah tahu saya miskin, saya juga butuh kain ini…, kamu yang seharusnya membelikan baju buat saya, sayakan gurumu !, bukan malah mengambil baju saya…”, dan perkataan yang semisal ini. Namun insya Allah masih banyak da’i dan kiyai yang tidak bersikap demikian karena meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Jubair bin Muth’im radhiallahu ‘anhu mengabarkan :

أَنَّهُ بَيْنَا هُوَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهُ النَّاسُ مُقْبِلًا مِنْ حُنَيْنٍ عَلِقَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَعْرَابُ يَسْأَلُونَهُ حَتَّى اضْطَرُّوهُ إِلَى سَمُرَةٍ فَخَطِفَتْ رِدَاءَهُ فَوَقَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَعْطُونِي رِدَائِي فَلَوْ كَانَ عَدَدُ هَذِهِ الْعِضَاهِ نَعَمًا لَقَسَمْتُهُ بَيْنَكُمْ ثُمَّ لَا تَجِدُونِي بَخِيلًا وَلَا كَذُوبًا وَلَا جَبَانًا

“Tatkala beliau bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ada sebagian sahabat yang datang dari Hunain, ada orang-orang Arab badui yang menempeli Nabi shallallahu ‘aaihi mereka meminta-minta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hingga akhirnya Nabi terpojok ke sebuah pohon Samuroh (yang berduri) hingga akhirnya selendang beliau tersangkut di duri pohon tersebut. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan berkata, “Berikan kepadaku selendangku, kalau seandainya aku memiliki unta sebanyak duri-duri ini maka aku akan membagikannya di antara kalian, kemudian kalian akan mendapatiku tidak pelit, tidak berdusta, dan tidak penakut” (HR Al-Bukhari no 3148)

Subhaanallah, Nabi dikerubungi oleh orang-orang Arab badui yang meminta-minta harta ghonimah kepada Nabi, hingga akhirnya Nabi terpojok dan kain selendang tersangkut di pohon…!!!. Meskipun demikian beliau sama sekali tidak marah, bahkan beliau minta udzur, bahwasanya beliau sedang tidak punya, kalau beliau punya onta sebanyak duri-duri pohon tersebut maka beliau pasti akan membagi-bagikannya tanpa pelit sama sekali, dan beliau tidak akan dusta.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata :

مَا سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الإسْلامِ شَيْئًا إلا أعْطَاهُ. قَالَ: فَجَاءَه رَجُلٌ (وفي رواية : سأل النبي صلى الله عليه وسلم غنما بين جبلين) فَأعْطَاهُ غَنمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ، فَرَجَعَ إلَى قَوْمِهِ، فَقَالَ: يَاقَوْمِ، أسْلِمُوا، فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِى عَطَاءً لا يَخْشَى الْفَاقَةَ

“Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diminta sesuatu –demi untuk masuk Islam- kecuali Rasulullah berikan. Maka datang seseorang (dalam riwayat yang lain : Orang ini meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kambing sepenuh lembah diantara dua gunung) maka Nabi memberikan kepadanya kambing sepenuh lembah, lalu iapun kembali kepada kaumnya dan berkata, “Wahai kaumku, masuklah kalian ke dalam Islam, sesungguhnya Muhammad memberi pemberian tanpa takut kemiskinan sama sekali” (HR Muslim no 2312)

Lihatlah Nabi bukan hanya memberikan kepada kaum muslimin, bahkan Nabi juga memberikan kepada non muslim dalam rangka untuk menarik hati mereka ke dalam Islam. Akhirnya orang yang meminta kambing sepenuh lembah itupun masuk Islam, bahkan iapun pulang ke kaumnya mendakwahi mereka dengan menjelaskan kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Meskipun bisa saja mereka masuk Islam pertama kali karena harta, akan tetapi lama-kelamaan jika mereka telah mengenal keindahan Islam maka Islam lebih mereka cintai daripada harta.

Anas bin Malik berkata :

إنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إلا الدُّنْيَا، فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإسْلامُ أحبَّ إلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا

“Sungguh seseorang masuk Islam tujuannya hanyalah untuk mendapat harta duniawi, maka tidaklah ia masuk Islam hingga akhirnya Islam lebih ia cintai daripada dunia dan seisinya” (HR Muslim no 2312)

Akhlak kedermawanan Nabi yang menakjubkan ini akhirnya menjadikan orang-orang masuk Islam, bahkan orang yang paling membenci Nabi shallalllahu ‘alaihi wasallam. Diantaranya adalah Shofwan bin Umayyah yang merupakan putra dari Umayyah bin Kholaf (tuannya Bilal yang telah menyiksa Bilal, yang tewas setelah perang Badar dibunuh oleh Bilal dan lainnya). Shofwan bin Umayyah salah satu pemimpin kaum musyrikin dalam perang Uhud karena ia hendak menuntut balas atas kematian bapaknya Ummah bin Kholaf. Dan terus hendak membunuh Nabi setelah itu dalam perang Khondak. Bahkan tatkala Nabi telah menaklukkan kota Mekah, iapun masih enggan masuk Islam karena kebenciannya kepada Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam dan api dendam yang masih berkobar di dadanya. Namun akhirnya iapun masuk Islam karena kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ibnu Syihaab berkata :

غَزَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَزْوَةَ الْفَتْحِ – فَتْحِ مَكَّةَ – ثُمَّ خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْ مَعَهُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، فَاقْتَتَلُوا بِحُنَيْنٍ، فَنَصَرَ اللهُ دِينَهُ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأعْطَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَئِذٍ صَفْوَانَ بْنَ أميَّةَ مِائَةً مِنَ النَّعَمِ، ثُمَّ مِائَةً، ثُمَّ مِائَةً.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan perang menaklukkan kota Mekah, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi bersama kaum muslimin bertempur dalam perang Hunain, maka Allah memenangkan agamaNya dan kaum muslimin. Dan pada hari itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kepada Sofwan bin Umayyah 100 ekor unta, lalu 100 ekor unta, lalu 100 ekor unta”

Sa’id Ibnul Musayyib berkata bahwasanya Sofwan bin Umayyah berkata :

وَاللهِ لَقَدْ أعْطَانِى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أعْطَانِى، وَإِنَّهُ لأبْغَضُ النَّاسِ إلَىَّ، فَمَا بَرِحَ يُعْطِينِى حَتَّى إنَّهُ لأحَبُّ النَّاسِ إلَىَّ

“Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kepadaku apa yang ia berikan, padahal ia adalah orang yang paling aku benci. Namun Nabi terus memberikan kepadaku hingga akhirnya ia adalah orang yang paling aku cintai” (HR Muslim no 2313)

Kita bisa praktekkan hal ini kepada orang yang membenci kita, kalau kita berikan sejumlah harta kepadanya tentu kebenciannya akan mulai luntur, jika kita berikan lagi maka akan terus luntur hingga akhirnya ia bisa balik mencintai kita. Apalagi kalau kita menghadiahkan kepadanya mobil gratis?, rumah gratis??!!.

Kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bukan hanya terbatas pada harta belaka, bahkan beliau juga dermawan dengan kedudukan beliau, beliau mau memberi syafaat meskipun hanya kepada seorang budak. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata :

أَنَّ زَوْجَ بَرِيرَةَ كَانَ عَبْدًا يُقَالُ لَهُ مُغِيثٌ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ يَطُوفُ خَلْفَهَا يَبْكِي وَدُمُوعُهُ تَسِيلُ عَلَى لِحْيَتِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعبَّاسٍ يَا عَبَّاسُ أَلَا تَعْجَبُ مِنْ حُبِّ مُغِيثٍ بَرِيرَةَ وَمِنْ بُغْضِ بَرِيرَةَ مُغِيثًا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ رَاجَعْتِهِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَأْمُرُنِي قَالَ إِنَّمَا أَنَا أَشْفَعُ قَالَتْ لَا حَاجَةَ لِي فِيهِ

“Suami Bariroh adalah seorang budak lelaki yang disebut Mughits. Seakan-akan aku melihatnya keliling mengikuti belakang Bariroh sementara air matanya mengalir membasahi jenggotnya (karena Barirah menjadi budak merdeka dan budak wanita yang dimerdekakan boleh memilih antara tetap menjadi istri suaminya yang statusnya masih budak atau berpisah darinya. Dan Bariroh memilih untuk berpisah, sementara sang suami tidak mau berpisah karena saking mencintai istrinya Bariroh-pen). Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Wahai Ibnu Abbas, tidakkah kau takjub dengan kecintaan Mughits kepada Barirah dan kebencian Barirah kepada Mughits?”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Barirah (memberi syafaat untuk Mughits-pen), “Seandainya engkau kembali kepada Mughits?”. Maka Barirah berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkan aku?”. Nabi berkata, “Aku hanya sekedar memberi syafaat (tidak memerintah)”. Maka Bariroh berkata, “Aku tidak butuh untuk kembali kepadanya” (HR Al-Bukhari no 5283)

Perhatikan Nabi tetap dermawan dengan kedudukannya untuk menolong Mughits meskipun tidak berhasil, akan tetapi yang menjadi perhatian kita adalah Nabi mau dermawan dengan kedudukannya demi membantu seorang budak.

Demikian juga kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam doa beliau, beliau memiliki doa yang pasti dikabulkan akan tetapi beliau jadikan doa tersebut untuk umatnya sebagai syafaat bagi mereka pada hari kiamat kelak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata :

لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ يَدْعُو بِهَا وَأُرِيدُ أَنْ أَخْتَبِئَ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي فِي الْآخِرَةِ

“Setiap Nabi memiliki doa yang dikabulkan yang ia berdoa dengannya. Dan aku ingin menyimpan doaku yang terkabulkan tersebut sebagai syafaat bagi umatku di akhirat” (HR Al-Bukhari no 6304 dan Muslim no 199)

Diantara perkara yang menunjukkan akan keajaiban kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kedermawanan murid-muridnya yaitu para sahabat, sungguh sejarah menunjukkan kedermawanan mereka yang menakjubkan. Seakan akan sejarah mereka adalah sebuah dongeng, padahal sebuah kenyataan. Namun kita tidaklah menjadi heran jika kita telah mengetahui bahwasanya guru mereka adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagaimana kita bisa bayangkan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu yang bersedakah dengan seluruh hartanya??. Umar bin Al-Khottob radhiallahu ‘anhu yang bersedekah dengan setengah hartanya??

Kisah sahabat Anshori yang rela ia dan istrinya bahkan anak-anaknya tidur dalam kondisi kelaparan hanya karena demi bisa menjamu tamunya??!
Kalau seandainya kisah-kisah kedermawanan para sahabat ini tidak diriwayatkan dengan sanad yang shahih tentu kita akan yakin bahwa hal ini hanyalah dongeng belaka. Akan tetapi ternyata diriwayatkan dengan sanad yang shahih. Namun kita tidak perlu heran karena guru mereka adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Madinah, 21-02-1437 H / 03-12-2015 M
Abu Abdil Muhsin Firanda

Comments are closed.